Sunday, May 24, 2015

Perekonomian Singapura III: Developments and Challenges


“Even from my sick bed, even if you are going to lower me into the grave and I feel something is going wrong, I will get up.”
- Lee Kuan Yew -

Hiiii... agak seram ya kalau baca kutipan dari "The Founding Father of Singapore" di atas. Gimana enggak, "...jika aku merasa ada sesuatu yang salah, aku akan bangkit," katanya! Bukan apa-apa, kan yang bersangkutan sudah mmm... . Tapi pasti bukan itu maksudnya, pesan beliau mungkin lebih kepada semangat tak kenal lelah yang harus dimiliki setiap orang demi meraih kesuksesannya. Harus diakui bahwa Singapura meraih kesuksesannya bukan karena ketiban durian runtuh, tapi memang hasil dari kerja keras mereka yang tak henti-henti. Namun, pasti ada beberapa masalah yang pernah dan mungkin sedang dihadapi oleh Singapura dan pasti juga ada faktor pendukung yang membuat mereka bisa melangkah sejauh ini. Apa saja itu? So people, di part ke-3 ini kembali ada tiga pokok bahasan yang akan saya jabarkan, yaitu tentang peranan asing dalam bentuk investasi, masalah pokok perekonomian, dan kebijakan pemerintah yang dilakukan dalam lika-liku perjalanan perekonomian Sang Merlion.

A. Investasi Asing



Investasi asing, dikombinasikan dengan investasi perusahaan milik pemerintah (GLCs), mendukung perekonomian Singapura yang terbuka dan sangat bergantung pada perdagangan. Tanpa pembatasan dalam jasa keuangan, layanan profesional, dan sektor media, Singapura mempertahankan dominasi rezim investasi terbuka. Laporan Bank Dunia tentang "Doing Business 2014" menempatkan Singapura sebagai negara yang paling mudah untuk melakukan bisnis. Wacana "The Global Competitiveness Report 2013-2014" oleh World Economic Forum pun menyematkan Singapura sebagai negara kedua yang paling kompetitif dalam perekonomian global. Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) AS-Sinagpura, yang mulai berlaku 1 Januari 2004, turut memperluas akses pasar barang, jasa, dan investasi, meningkatkan perlindungan kekayaan intelektual, dan menyediakan kerjasama dalam mempromosikan hak-hak buruh dan lingkungan.

Pemerintah Singapura (GOS) sangat berkomitmen dalam mempertahankan pasar bebas, dan juga memimpin perencanaan pembangunan ekonomi Singapura. Pemerintah secara aktif menggunakan sektor publik baik sebagai investor dan katalis untuk pembangunan. The Economic Development Board (EDB), badan promosi investasi Singapura, berfokus pada mengamankan investasi utama di bidang manufaktur bernilai tambah tinggi dan kegiatan jasa sebagai bagian dari strategi untuk menggantikan kegiatan padat karya bernilai tambah rendah.

Kerangka hukum Singapura dan kebijakan publik umumnya menguntungkan terhadap investor asing. Investor asing tidak diharuskan untuk masuk ke dalam usaha patungan atau menyerahkan kontrol manajemen untuk kepentingan lokal, dan investor lokal dan asing tunduk pada hukum dasar yang sama.  Singapura tidak memberikan pembatasan pada investasi ulang atau repatriasi pendapatan atau modal. Sistem peradilan menjunjung tinggi kesakralan kontrak, dan keputusan diterapkan secara efektif.

B. Masalah Pokok Perekonomian



Masalah kependedukan semakin menjadi perhatian serius Singapura. Sebagai negara kecil dengan luas hanya 700 kilometer persegi dan berpenduduk 5,18 juta jiwa, perekonomian Singapura mulai booming pasca tahun 1965. Singapura bahkan menjadi Macan Asia. Namun setelah mengalami pertumbuhan pesat, Singapura kini mulai menghadapi kemerosotan akibat masalah kependudukan. 

Singapura semula menikmati yang disebut sebagai demographic devidend, yaitu pertumbuhan pesat ketika pertumbuhan penduduk melambat. Mulai dari tahun 1990-an, Singapura terus mengatur kebijakan untuk mengendalikan periode "keberuntungan demografi" ini . Ekonom senior Singapura, Profesor Tan Kong Yam selalu menaruh perhatian pada hubungan antara struktur populasi dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dia mengatakan, kemajuan ekonomi berhubungan erat dengan kondisi demografi Singapura. Singapura menikmati keberuntungan karena kondisi demografi pada kurun akhir 1970-an sampai awal 1990-an.  

Seperti negara-negara yang mengalami masalah kependudukan lainnya, Singapura juga menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja dan beban penduduk usia lanjut. Demografi Singapura mengalami perubahan struktur penduduk tenaga kerja. Cara yang diambil Singapura untuk memacu pertumbuhan penduduk tidak berhasil, sehingga pemerintah Singapura mengambil cara imigrasi selektif. Profensor Tan Kong Yam mengatakan, basis populasi Singapura tidak besar, sehingga setiap tahun hanya memerlukan 3 sampai 4 ribu imigran teknis. Dengan demikian, Singapura masih bisa memperpanjang periode "keberuntungan demografi". Masalah tenaga kerja telah mendorong pertumbuhan ekonomi Singapura, sedangkan pertumbuhan ekonomi telah meningkatkan daya saing nasional. Apalagi, Singapura menggunakan bahasa Inggris, sehingga Singapura menarik banyak tenaga terampil dari seluruh dunia.

Namun pertumbuhan ekonomi yang cepat belum melegakan hati pemimpin Singapura. Kebanjiran imigran baru telah membawa sejumlah masalah sosial. Kebanjiran imigran mengakibatkan kenaikan harga rumah dan kemacetan lalu lintas. Untuk stabilitas politik dan sosial, Singapura menganjurkan para perempuan kembali bekerja setelah anaknya dewasa. Pemerintah juga mendorong orang lanjut usia untuk menunda waktu pensiun. Perusahaan juga diimbau untuk tidak memutuskan hubungan kerja dengan pekerja yang berusia 40-50 tahun yang kurang berpendidikan. Pemerintah juga menyediakan tunjangan pelatihan demi mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja asing.

C. Kebijakan Pemerintah



Periode tahun 1960an disebutkan sebagai masa-masa sulit bagi Singapura karena tingginya tingkat pengangguran di negara ini, kondisi infrastruktur yang buruk, dan industri yang ada hanya memproduksi kebutuhan konsumsi domestik saja; bahkan hampir tidak ada investasi asing yang masuk padahal pendapatan perkapita negeri ini hanya mencapai kurang dari US$320. Karena itu pembangunan ditujukan pada penyediaan infrastruktur yang kondusif demi mempersiapkan Singapura sebagai tempat yang menarik bagi investasi asing dalam industri padat karya yang berorientasi ekspor. Banyak investor asing kemudian masuk ke negara ini sehingga membuka lapangan kerja bagi warga Singapura misalnya pada industri garmen, tekstil, produk berbahan dasar kayu, dan industri rambut palsu.

Pengangguran tidak lagi menjadi masalah bagi Singapura pada periode tahun 1970an, negara ini lalu mulai menggeser prioritas kebijakan pembangunannya setingkat lebih tinggi dengan mengembangkan industri semi-intensif seperti suku cadang komputer, piranti lunak komputer, dan produk-produk elektronik. Unit Ketenagakerjaan dan Pelatihan kemudian dibangun oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan industri akan tenaga kerja yang terampil, disamping itu juga diadakan program-program pelatihan dan magang tenaga kerja bersama dengan perusahaan dari India dan Eropa.

Singapura kembali menggerakkan kebijakan pembangunan ekonominya menjadi lebih tinggi pada periode tahun 1980an dengan mengembangkan industri padat modal dan berteknologi tinggi. Ini merupakan cara untuk meningkatkan daya saing nasional mengingat lokasi-lokasi yang murah bagi penanaman modal manufaktur banyak bermunculan di Asia pada akhir tahun 1970an hingga awal tahun 1980an. Untuk
mendukung kebijakan ini, Singapura melakukan beberapa program seperti pelatihan tenaga ahli dari Singapura di bidang komputer dan engineering, pembangunan Science Park untuk menstimulasi sektor swasta untuk melakukan aktivitas penelitian dan pengembangan, dan pemberian Robot Leasing Scheme untuk menawarkan pembiayaan dengan ongkos yang rendah dan konsultasi teknis bagi manufaktur yang ingin
mengotomasi proses produksinya.

Pemerintah Singapura juga meningkatkan upah pekerja untuk mempercepat perpindahan dari industri padat karya dan menarik minat pekerja untuk bekerja di industri berteknologi tinggi. Strategi ini berhasil dengan baik pada sepanjang tahun 1980an saat Singapura menjadi tempat yang menarik bagi perusahaan global untuk berinvestasi dalam industri komputer dan kimia, namun berdampak dimulainya relokasi dan regionalisasi operasional bisnis padat karya dari Singapura ke negara-negara lain yang lebih murah di ASEAN terutama Malaysia. Keputusan ini sangat tepat, sektor jasa hingga kini berkembang dengan sangat baik. Bahkan menurut data statistik Sekretariat ASEAN, sejak tahun 2005 hingga tahun 2008, sektor jasa setiap tahun menyumbang lebih dari 60% terhadap GDP Singapura.

Sumber:

www.state.gov/documents/organization/227436.pdf

Siswanto, Ekki. 2013. PERMASALAHAN KEPENDUDUKAN DI SINGAPURA DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI POLITIK. Diambil dari: http://www.academia.edu/5696924/PERMASALAHAN_KEPENDUDUKAN_DI_SINGAPURA_DALAM_PERSPEKTIF_SOSIOLOGI_POLITIK_Tugas_

Nova, Maria Marranu M. 2010. KEBIJAKAN PEMBANGUNAN EKONOMI PEMERINTAH SINGAPURA DAN  DUKUNGANNYA TERHADAP PENGEMBANGAN INDUSTRI TRANSPORTASI UDARA MELALUI KERJA SAMA LIBERALISASI. Diambil dari: http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/135843-T%2027993-Singapura%20dan%20kerja-Metodologi.pdf

1 comments:

  1. Slot Machine - JamBase
    Play the slot machine Online! At JamBase, you'll be able 강원도 출장안마 to play over 오산 출장마사지 100 games from the comfort of 광양 출장샵 your home, wherever you are 원주 출장샵 located. Play 전주 출장안마 your favorite games

    ReplyDelete